KISAH IBU MERTUA DAN ADIK IPARKU

 Ini kisah nyata saya. Saya tuliskan untuk memeriahkan lapak kesayangan kita ini. Saya usia 25 tahun, pekerja swasta dan memiliki dua orang anak. Istri saya anak pertama dan memiliki seorang adik perempuan beda usia 1,8 tahun. Karena mertua yang tidak memiliki anak laki-laki menyebabkan saya sangat diperhatikan. Terutama mertua perempuan saya. Usianya saat itu 42 tahun. Tinggi, kulit putih, wajah oval dan masih cantik. Maklum hanya memiliki dua anak perempuan dan sehari-hari tidak bekerja di luar rumah. 2 kali seminggu ikut senam hingga badannya padat berisi.


Di rumah, mertua, istri dan adik ipar terbiasa menggunakan celana pendek dan merupakan hal biasa bagi saya melihat mulusnya paha mereka, terutama mertua dan adik ipar. Merekapun terbiasa duduk sembarangan hingga sering saya melihat sampai ke paha bagian dalam. Wuihhhh, menggiurkan. Bila si Otong gelisah, maka ada istri pelampiasannya.


Walaupun semasa lajang saya sudah membeli satu unit rumah kecil, namun sejak menikah sampai usia anak pertama 5 tahun kami tetap tinggal dengan mertua. Kami tidak diperbolehkan pindah, apalagi semenjak kelahiran anak pertama saya yang laki-laki. Mertua semakin menahan kami untuk tetap tinggal dengan mereka.


Sejak kelahiran anak pertama itu pula mertua perempuan saya semakin sering ke kamar untuk menegok cucu, bahkan sering pula sampai tertidur menemani cucunya. Seiring itu pula saya semakin sering menikmati keindahan tubuh dan kemulusan paha mertua saya. Bahkan sering, dalam tidur sampai bagian celana dalamnya tampak jelas di antara daster yang dipakainya.


Sebagai pekerja swasta, saya sering ke luar kota atau pulang malam. Terkadang waktu pulang kerja antara jam 23.00-24.00 WIB saya mendapati mertua, adik ipar dan istri tidur di kamar saya. Mereka begitu sayang sama anak saya. Tak ada waktu tersisa untuk tidak bersama cucunya bahkan beberapa kali, jika mereka saya dapati sedang tertidur di kamar, saya akhirnya harus pindah tidur ke kursi di depan TV.


Demikian seterusnya, kehidupan rumah tangga saya berjalan normal, kasih sayang dan perhatian kedua mertua kepada kami tetap hangat, apalagi semenjak kehadiran anak pertama saya, rasa bahagia mertua semakin bertambah.Menangis sedikit saja si bayi, sang nenek dan kakek sudah sibuk menanyakan kenapa cucu mereka menangis.


Sampai usia anak saya tiga tahun dan anak kedua yang juga laki-laki lahir, saya dipindahkan ke provinsi lain untuk memimpin kantor cabang di sana. Dengan berat hati, istri dan mertua saya menerima perpindahan ini. Sayapun akhirnya hanya dapat pulang sekali sebulan. Kantor hanya menanggung tiket pesawat PP sekali sebulan, jika pulang setiap akhir minggu ditanggung sendiri.


Skip, skip, skip.

Setahun sudah saya bekerja di provinsi A. Suatu siang, istri saya menelpon untuk menceritakan bahwa adik ipar saya, Anggi, diketahui positif hamil di luar nikah. Kandungannya sudah dua bulan. Saya pulang dan malamnya kami berdiskusi untuk mencari solusi kehamilan adik ipar tersebut. Menikahkan dengan laki-laki yang menghamilinya? Mertua tidak setuju, apalagi si laki-laki belum bekerja dan dari awal mertua sebenarnya tidak setuju adik ipar pacaran dengan si laki-laki tersebut.


Akhirnya disepakati, adik ipar diungsikan di rumah saya di provinsi A dan mertua ikut menjaga. Dengan pikiran masih bersih, saya dan istri menerima. Apalagi rumah yang saya tempati cukup besar. Selama ini di rumah yang dikontrak kantor tersebut hanya saya yang tinggal. Asisten rumah tangga datang pagi, pulang sore. Hari itu asisten rumah tidak masuk kerja, karena anaknya demam. Dua kamar lain masih kosong.


Skip, skip, skip

Hari ini, saya, adik ipar dan mertua berangkat ke Provinsi A. Satu jam perjalanan dengan pesawat udara, kami sampai. Di bandara supir telah menunggu untuk menjemput. 30 menit kami tiba di rumah dan malamnya sayapun melapor ke Pak RW mengenai kedatangan adik ipar dan mertua. Kepada Pak RW saya tak mengatakan dia adik ipar saya. Saya katakan, dia istri saya dan sedang hamil muda. Jarak usia adik ipa

Komentar